Kajian Madhia: Parents of GIS 3 Jogja Students Learn to Manage Emotions and Find Happiness

Yogyakarta – Tidak hanya siswa, para parent pun tak lelah untuk terus belajar dan memperdalam ilmu agamanya. Parents dari seluruh unit pendidikan di Global Islamic School 3 Yogyakarta (GIS 3 Jogja) pun membentuk kelompok kajian, yakni Kajian Madhia. 

Secara rutin, mereka menyelenggarakan acara kajian yang mengangkat beragam tema yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Pada kesempatan kali ini, mereka bersama-sama memahami tentang suasana hati lewat tema “Lelah, Marah, Overthinking … Kenapa?” yang diusung.

Acara ini diselenggarakan di Multipurpose Hall JHS GIS 3 Jogja pada hari Selasa, 11 Agustus 2026 pukul 08.00–10.00 WIB. Ustaz Muh. Ikhsan turut dihadirkan sebagai pemateri yang akan menemani parents memahami perasaannya.

Ustaz Ikhsan memberi ceramah kepada parents yang hadir dalam kajian ini
Ustaz Ikhsan memberi ceramah kepada parents yang hadir dalam kajian ini (Dokumentasi Tim Humas GIS 3 Jogja)

Kelola Emosi, Temukan Kebahagiaan Hati

Sejak pukul 07.30 WIB, sejumlah parents tampak sudah berdatangan. Setelah melakukan registrasi, mereka memasuki aula dan memilih tempat yang nyaman. Ketika Aula tampak semakin penuh, salah satu parent yang bertugas sebagai Master of Ceremony (MC) pun segera membuka acara.

Ustaz Ikhsan yang ceria dan lugas kemudian mengambil alih acara usai dipersilakan oleh MC. Beliau mengawali dakwah dengan ajakan, “Mari kajian ini kita jadikan untuk perbaikan hati.” Sebuah ajakan yang mengandung harapan besar akan timbulnya ketenangan hati setelah memahami materi kajian hari ini.

Menurut Ustaz Ikhsan, kunci kebahagiaan seseorang bukan terletak pada harta maupun jabatan yang dimilikinya, melainkan suasana serta caranya memanajemen perasaan. Biasanya, hati tidak akan tenang jika ada sesuatu yang terasa mengganjal.

Parents terlihat menyimak nasihat dari Ustaz Ikhsan dengan saksama
Parents terlihat menyimak nasihat dari Ustaz Ikhsan dengan saksama (Dokumentasi Tim Humas GIS 3 Jogja)

Di sini, dijelaskan pula bahwa sakit hati yang tidak dibicarakan atau diutarakan dapat menyebabkan kemarahan yang bertumpuk hingga akhirnya meluap dan membuat seseorang menjadi lebih mudah lelah dan overthinking atau memikirkan suatu hal secara berlebihan.

Untuk mengobati emosi negatif tersebut, Ustaz Ikhsan mengingatkan kita untuk senantiasa memperbanyak ibadah, seperti salat Tahajud dan Duha, agar hati lebih tenteram dan damai. Dengan demikian, kita turut melibatkan Allah dalam menghadapi berbagai persoalan. 

Selain itu, kita juga harus menguatkan mental dan mengelola emosi agar tidak mudah sakit hati. Dengan kondisi mental dan emosi yang stabil, kita dapat meminimalkan beragam perasaan negatif yang bersarang di hati.

Pada sesi tanya jawab, salah satu peserta kajian mengajukan pertanyaan kepada ustaz
Pada sesi tanya jawab, salah satu peserta kajian mengajukan pertanyaan kepada ustaz (Dokumentasi Tim Humas GIS 3 Jogja)

Ustaz Ikhsan juga berpesan supaya kita memberi manfaat pada orang lain. “Sebelum minta dibahagiakan orang lain, kita bahagiakan orang lain dulu,” tuturnya. Kebahagiaan terkadang justru hadir setelah kita berbuat kebaikan terlebih dulu kepada orang lain di sekitar.

Kajian ini ditutup dengan sesi tanya jawab yang merupakan ruang bagi parents untuk menanyakan kegelisahan dan kebimbangan pribadinya. Jawaban dari ustaz seolah menjadi sekelebat titik terang atas kegelisahan parents.

Melalui kajian hari ini, parents belajar memahami dan mengendalikan emosinya. Orang tua dengan emosi yang matang akan lebih bijaksana dalam menghadapi anak-anaknya sehingga sang anak juga tumbuh dengan kepribadian yang baik. Selain itu, kajian ini juga mengajak parents menemukan kebahagiaan dengan cara menata suasana hatinya. []

Ditulis oleh: Tim Humas GIS 3 Jogja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *