Yogyakarta – Menyadari bahayanya zat narkotika, Global Islamic School 3 Yogyakarta (GIS 3 Jogja) menggandeng Badan Narkotika Nasional Kabupaten Sleman (BNN Kab. Sleman) untuk menyelenggarakan sosialisasi P4GN atau Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkotika.
Para pendidik dari seluruh unit GIS 3 Jogja, mulai dari Playgroup-Kindergarten sampai Junior High, mengikuti sosialisasi yang diadakan di Aula JHS pada hari Jumat, 10 Juli 2026 pukul 09.00–11.00 WIB.
Narkoba Hari Ini: Ancaman Lama dengan Wajah Baru
Fandhi Eko Prasetyo, penyuluh narkoba dari BNN Kab. Sleman, menjadi pembicara pada hari ini. Pembawaannya yang santai dan menyenangkan membuat suasana terasa lebih luwes. Tawa ringan lolos dari para audiens yang terhibur dengan penjelasan Mas Fandhi.

Mas Fandhi mengawali sosialisasi dengan menyampaikan perihal faktor yang membuat seseorang bisa terpengaruh narkoba, seperti kekayaan alam dan banyaknya entry point di Yogyakarta serta masuknya budaya asing melalui film, musik, dan ragam media lain.
Bahaya narkoba kembali ditekankan lewat sajian data yang mengilustrasikan prevalensi orang meninggal akibat narkoba. Data tersebut menunjukkan bahwa pada tahun 2023, sebesar 1,73% atau 3,33 juta orang meninggal karena zat adiktif itu.
Ganja, amfetamine, heroin, dan berbagai jenis narkotika lain memiliki dampak yang luar biasa merusak pada jaringan otak. Dalam jangka panjang, narkotika juga menyebabkan kelumpuhan dan cadel.
Selain jenis-jenis narkotika yang selama ini kita kenal, Mas Fandhi turut memperkenalkan narkotika baru bernama New Psychoactive Substance (NPS). Seiring berkembangnya zaman, para bandar tentu mencari strategi baru agar anak-anak muda mudah dijerat ke dalam lingkaran penyalahgunaan zat terlarang.

Saat ini, vape menjadi tren dan budaya tersendiri di kalangan anak muda. Maka di sini lah seorang bandar menyelundupkan narkoba. Obat anestesi dan ganja cair (NPS) kerap kali dicampurkan ke dalam liquid vapor.
Dalam sosialisasi ini juga dijelaskan secara singkat tentang bentuk-bentuk lain narkotika, seperti jamur kotoran sapi yang bisa dicampur dengan telur, pil LL, dextromethorphan, serta bahan adiktif lain yang bukan narkotika, tetapi menyebabkan ketergantungan, misalnya, kopi, alkohol, rokok, dan lem.
Tak ketinggalan, BNN Kab. Sleman juga menjelaskan dari mana narkoba bisa diperoleh dan modus operandinya seperti apa. Di sini, lembaga tersebut mengingatkan kita bahwa narkoba bisa didapat dari mana pun dan siapa pun sehingga kita perlu berhati-hati.

“Narkoba ini bisa menurunkan kualitas sumber daya manusia kita,” tutur Mas Fandhi, memberi penekanan kepada seluruh pendidik yang hadir. Ia mengajak para pendidik untuk berperan aktif dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba di kalangan siswa.
Pesan Hari Ini untuk Perlindungan di Masa Depan
Speech dari Ms. Aini Husna, M.Pd., Direktur GIS 3 Jogja, berhasil menggugah kesadaran para pendidik tentang betapa dekatnya bahaya yang mengintai dari peredaran narkotika di era sekarang ini.
“Narkoba ini tampaknya jauh dari kita, padahal nggak. Peran kita, para guru, sebagai pengganti orang tua di sekolah, harus bisa membantu mengawasi anak-anak,” ujar Ms. Aini, sembari menggarisbawahi pentingnya keterlibatan guru dalam pengawasan anak.
Sementara itu, Bapak Teguh Tri Prasetya, Ketua BNN Kab. Sleman, bicara tentang Hari Anti Narkoba Internasional (HANI) 2026 yang mengusung tema “Membangun Generasi Sehat, Cerdas, dan Kuat Melalui Gerakan Ananda Bersinar Menuju Indonesia Emas 2045”.

Beliau mengungkapkan, “Momen ini menjadi sangat penting. ‘Ananda Bersinar’ dimulai dari anak, bagaimana kita menanamkan hidup sehat, cerdas, dan kuat tanpa narkoba kepada anak didik kita semua.”
Sesi sambutan dari kedua pimpinan ini kemudian ditutup dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara kedua belah pihak. Tujuannya, supaya sinergi dan kerja sama GIS 3 Jogja dan BNN Kab. Sleman dapat berjalan semakin lancar, seperti yang diharapkan Ms. Aini.
Menguatkan Karakter, Menjaga Masa Depan Generasi Muda
Siswa-siswi GIS 3 Jogja merupakan calon generasi penerus bangsa yang perlu diberdayakan dan dikembangkan potensinya. Terutama bagi siswa JHS yang sedang memasuki masa remaja, pendampingan dan arahan sangat penting agar mereka tidak terjerumus ke dalam pergaulan yang menyesatkan.
Oleh karena itu, sosialisasi dari BNN, baik bagi siswa maupun pendidik dan tenaga kependidikan, merupakan suatu hal yang relevan untuk dilaksanakan demi membangun kesadaran anti narkoba. []
Ditulis oleh: Tim Humas GIS 3 Jogja

