Yogyakarta – Pagi itu, sesampainya di sekolah, siswa-siswi Global Islamic School 3 Yogyakarta (GIS 3 Jogja) segera bersiap-siap menuju lokasi upacara. Siswa Primary dan Junior High (JHS) melangkah semangat ke lapangan basket, sedangkan siswa Playgroup-Kindergarten (PG-K) dibimbing teachers untuk berkumpul di hall PG-K.
Upacara yang dilaksanakan pada Senin, 18 Mei 2026 ini terasa sedikit berbeda karena menjadi bagian dari peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas), yang diperingati setiap tanggal 20 Mei.
Amanat Kebangkitan untuk Generasi Muda Penerus Bangsa
Di lapangan basket, siswa-siswi Primary dan JHS berdiri di belakang plang nama kelasnya masing-masing. Perhatian mereka terpusat pada Ms. Wulan, pembina upacara hari itu, yang berdiri di podium.

Saat tiba waktunya untuk menyampaikan amanat, Ms. Wulan mengingatkan para siswa tentang salah satu hari paling penting dalam sejarah perjalanan Bangsa Indonesia, yaitu berdirinya organisasi Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908.
Ms. Wulan menyebutkan, pendirian organisasi itu menjadi salah satu titik awal perjuangan Indonesia. Organisasi yang dicetuskan oleh Dr. Sutomo dan pelajar STOVIA ini adalah gerakan nasional pertama yang berfokus pada bidang pendidikan dan kebudayaan.
Hari Kebangkitan Nasional menjadi momen reflektif yang mengingatkan siswa pada perjuangan pelajar dalam meraih kemerdekaan di masa kolonialisme. Sebagai generasi penerus bangsa, penting bagi siswa untuk meneladani perjuangan para pahlawan demi Indonesia yang lebih maju dan sejahtera.

Amanat tersebut ditutup dengan pesan penuh harap yang disampaikan oleh Ms. Wulan agar siswa selalu semangat belajar dan tidak mudah menyerah. Diharapkan, mereka juga tumbuh menjadi anak yang semakin baik setiap harinya.
Nasihat Hangat dari PG-K: Menghidupkan Jiwa Nasionalisme Anak Usia Dini
Berbeda dengan kakak-kakak di Primary dan JHS, siswa PG-K mengadakan upacara di hall sekolah. Ms. Lili, wakil kepala sekolah PG-K, yang bertugas sebagai pembina upacara menyampaikan pesan yang juga penuh makna.
“Friends, friends,” seru Ms. Lili, menyapa siswa dengan suara yang hangat dan ceria. Perhatian siswa yang sempat teralihkan pun kembali tertuju ke depan saat sapaan itu terdengar memenuhi seisi ruangan.
Ms. Lili membuka amanat dengan satu pertanyaan, “Ada yang tahu tidak dua hari lagi hari apa?” Siswa pun bersahutan menjawab pertanyaan tersebut. Gaya penyampaian amanat yang interaktif ini membuat suasana terasa lebih hidup dan siswa lebih fokus.

Selanjutnya, pembina upacara memberikan eksplanasi singkat tentang Hari Kebangkitan Nasional. Tentunya, dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh siswa-siswi usia dini. Jadi, siswa tetap bisa mencerna dan memahami apa itu Harkitnas.
Hari Kebangkitan Nasional yang diperingati hari ini merupakan pertanda kalau Indonesia sudah berusia panjang dan selama itu, negara ini dibangun dengan penuh semangat, termasuk oleh para pemuda dan pelajar.
Tidak lupa, siswa juga diajak memahami berbagai hal yang dapat dilakukan untuk meneruskan perjuangan para pendahulu bangsa. “Berdoa, sekolah dan belajar yang baik, dengarkan miss-nya, dan jangan takut berbuat jujur,” tutur Ms. Lili.
Upacara di PG-K diakhiri dengan menyanyikan “Mars GIS” dan “Satu Nusa Satu Bangsa” bersama-sama. Lantang suara siswa menggema di setiap sudut hall. Mereka kemudian melafalkan doa, memberi penghormatan kepada pembina upacara, dan kembali ke kelas masing-masing sembari melantunkan surah-surah pendek Al-Qur’an.

Merajut Karakter Kepahlawanan melalui Upacara Bendera
GIS 3 Jogja secara rutin mengadakan upacara dalam rangka peringatan hari-hari besar nasional. Bukan sekadar seremoni, upacara yang dilaksanakan menjelma menjadi sarana bagi siswa untuk mengenal dan mempelajari sejarah bangsa.
Harapannya, siswa bisa meneladani sikap-sikap kepahlawanan para pejuang kemerdekaan dahulu sehingga mereka tumbuh menjadi individu yang cerdas, berani, bertanggung jawab, dan mampu membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. []
Ditulis oleh: Tim Humas GIS 3 Jogja

