Yogyakarta – Tanggal 2 Oktober di Indonesia dinobatkan sebagai Hari Batik Nasional. Berbagai kalangan masyarakat akan meramaikan hari itu dengan mengenakan pakaian batik untuk bekerja maupun sekolah.
Demikian pula dengan Global Islamic School 3 Yogyakarta (GIS 3 Jogja). Ragam motif batik yang dikenakan oleh seluruh warga sekolah menambah warna dan semarak sejak awal kegiatan.
Dalam rangka peringatan Hari Batik Nasional 2026, GIS 3 Jogja menyelenggarakan upacara di lapangan basket pada pukul 07.30–08.10 WIB. Upacara ini diikuti oleh seluruh warga Primary dan Junior High (JHS), mulai dari anak-anak, guru, sampai tenaga kependidikan (tendik).

Tepat pukul 07.30 WIB, upacara dimulai. Suasana hening seketika tercipta. Didampingi guru masing-masing, anak-anak berbaris tertib di belakang papan nama kelasnya. Perhatian mereka langsung tertuju ke tengah lapangan.
Sehari Berbatik: Usaha Mencintai Jejak Budaya Leluhur
Upacara berlangsung dengan lancar dan khusyuk. Seluruh peserta memberikan penghormatan kepada Bendera Merah Putih yang dikibarkan, mengheningkan cipta, menyimak pembacaan UUD 1945, sampai melafalkan Pancasila dan Bear Witness dengan lantang.
Mr. Adam, Koordinator Wakil Kepala Sekolah Primary, menjadi pembina upacara pada momen spesial ini. Beliau menjelaskan secara singkat tentang betapa berharganya batik bagi bangsa Indonesia dan apa yang dapat dilakukan oleh siswa untuk melestarikan kain khas Indonesia tersebut.

Batik merupakan warisan budaya Indonesia. Sejarahnya begitu panjang, dari yang awalnya diperebutkan oleh berbagai negara sampai akhirnya diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) pada 2 Oktober 2009.
Oleh sebab itu, sudah seharusnya kita mengajak anak-anak untuk melestarikan dan mencintai batik. Salah satu cara yang bisa dilakukan anak, menurut Mr. Adam, yaitu dengan memakainya dalam keseharian.
Sentuhan modernisasi telah membuat batik berkembang pesat, dari yang awalnya lekat dengan nuansa tradisional, kini menjadi lebih modern. Adaptasi batik dengan perkembangan zaman ini, diharapkan bisa mendorong anak-anak agar lebih tertarik dengan pakaian batik.

Setelah sesi amanat ditutup, seluruh peserta upacara menyanyikan Mars GIS dan memanjatkan doa dengan khidmat sebelum kemudian kembali ke kelas dan ruangannya masing-masing. Meski singkat, upacara dan amanat tadi diharapkan dapat meningkatkan awareness mereka tentang pemajuan kain batik sebagai warisan budaya bangsa.
Merawat Batik, Mewariskan Budaya
Memakai batik bukan sekadar simbol peringatan Hari Batik Nasional yang diadakan setiap satu tahun sekali. Lebih daripada itu, pemakaian batik merupakan wujud apresiasi terhadap warisan budaya bangsa kita.
Untuk anak-anak, mengenakan batik bisa menjadi suatu pengalaman tersendiri. Menggunakan pakaian yang berbeda dari biasanya memberi pembelajaran kepada anak untuk mengenal, menghargai, dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap budaya Indonesia.

Ke depannya, diharapkan batik bisa menjadi bagian dari kehidupan anak dan tidak hanya dikenakan di kegiatan-kegiatan formal sebab melestarikan batik bukan sekadar menjaga eksistensi kain itu, tetapi memperkenalkan dan mewariskannya kepada generasi berikutnya. []
Ditulis oleh: Tim Humas GIS 3 Jogja

